#HUJAN

 

Hujan gerimis turun perlahan, membuat jalan raya basah dan cahaya lampu jalan berkilauan. Di tengah-tengah keramaian kota, ada seorang wanita muda bernama Alia yang berjalan sendirian dengan basah kuyup. Dia adalah seorang arsitek yang memiliki kehidupan yang sibuk dan teratur.

Saat Alia melintasi jalan yang licin, seorang pria muda bernama Rafi dengan cepat menghampirinya. Rafi menawarkan payungnya, senyuman lembutnya menyapu hati Alia. Mereka berdua kemudian berbagi payung, dan dalam perbincangan yang ringan, Alia dan Rafi mulai merasakan kehangatan yang tidak terduga di tengah hujan yang sejuk.

Rafi: (dengan senyuman ramah) Permisi, namamu Alia, bukan?

Alia: (terkejut) Ya, benar. Bagaimana kamu tahu?

Rafi: (sambil menunjuk ke arah langit) Kau tahu, hujan ini cukup nakal. Payungku ganda, dan sepertinya kita bisa berbagi.

Alia: (tertawa) Terima kasih, tapi aku tidak mau merepotkanmu.

Rafi: (bersikeras) Tidak merepotkan sama sekali. Lagipula, dua kepala di bawah satu payung terdengar seperti rencana yang bagus, bukan?

Alia: (tersenyum) Ya, sebenarnya terdengar seperti rencana yang sangat baik.

Mereka berdua kemudian berjalan bersama di bawah payung Rafi, melupakan hujan yang turun perlahan. Percakapan mereka pun mulai mengalir, dan ketidaknyamanan awal seolah lenyap oleh kehangatan pertemuan yang tidak terduga ini.

Rafi: (sambil tersenyum) Ternyata hujan ini memberi kita kesempatan untuk berbagi payung.

Alia: (tersenyum) Siapa sangka, ya? Terima kasih sudah menawarkan payungmu tadi.

Rafi: (tersenyum lebar) Aku senang bisa membantu. Jadi, apa yang membawamu ke tengah hujan ini?

Alia: (berpikir sejenak) Hanya kehidupan sehari-hari, pekerjaan, dan sebagainya. Kamu sendiri? Apa yang kamu lakukan di tengah hujan seperti ini?

Rafi: (merenung sejenak) Aku suka pergi berjalan-jalan di tengah hujan. Rasanya menyegarkan, dan ada sesuatu yang magis tentang tetesan air yang jatuh.

Alia: (tersenyum) Aku tidak pernah berpikir begitu. Biasanya, aku lebih suka berada di dalam ruangan saat hujan.

Rafi: (tersenyum penuh semangat) Mungkin suatu hari nanti, kita bisa berjalan-jalan bersama di tengah hujan. Siapa tahu, mungkin kamu akan menemukan keajaiban yang tersembunyi di sana.

Alia: (tersenyum malu) Itu terdengar seperti ide yang menarik. Aku akan mempertimbangkannya.

Rafi: (tersenyum penuh kehangatan) Sama seperti payung ini, kita tidak pernah tahu apa yang mungkin terjadi di tengah perjalanan hidup kita.

Alia: (tersenyum setuju) Ya, siapa yang tahu? Mungkin hujan ini membawa berkah bagi kita.

Mereka melanjutkan perjalanan di bawah payung, berbicara tentang kehidupan, impian, dan harapan mereka sambil tetesan hujan turun dengan lembut di sekeliling mereka. Setibanya ditujuan, Alia berhenti dan mengajak Rafi untuk ikut mampir.

Alia: (mengusap jaketnya yang basah) terimakasih ya Rafi sudah mengantar

Rafi: (tersenyum) sama-sama, tak mengapa itu sudah menjadi tugasku Alia

Alia: (mengernyitkan dahi) maksudnya?

Rafi: totalnya Rp. 30.000 Alia, terimakasih sudah menggunakan jasa ojek payungku Alia

Alia: (menganga) baiklah Rafi, ambil saja kembaliannya. Terimaksih sudah membantuku

Rafi: (mengambil uang yang diberikan Alia) sama-sama Alia, terimakasih untuk lebihnya

Komentar